Rencana
Bupati Boyolali, Seno Samodro, membangun bandara baru di Boyolali rupanya tidak
mudah.
Kendati
mengklaim mendapat izin dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), rencana masuknya
investor dari Tiongkok untuk membangun bandara di Boyolali terkendala aturan
kerja sama World Trade Organization (WTO)
Saat
berbincang dengan Solopos.com, Selasa (22/11/2016), Seno menyebut
Indonesia merupakan salah satu negara anggota WTO dan sudah tanda tangan ikut
aturan WTO. Ada tiga negara yang tidak ikut tanda tangan dalam organisasi
perdagangan dunia itu yakni Israel, Uni Soviet, dan Tiongkok.
“Jadi
masalahnya ada dua sistem yang berbeda. Kebetulan investornya dari Tiongkok dan
dalam investasi mereka mensyaratkan adanya bank garansi. Sesuai dengan hukum
perdagangan di WTO, bank garansi ini sudah tidak berlaku, dulu ada waktu masih
zaman Presiden Soeharto, sekarang sudah tidak berlaku,” papar Seno.
Seno
akan mengikuti aturan yang berlaku dalam rencana investasi ini. “Karena
Indonesia sudah ikut tanda tangan WTO, jadi harus kita ikuti.”
Namun,
baginya, kendala ini tidak menjadi aral untuk merealisasikan pembangunan
bandara di Boyolali. “Akan coba kami diskusikan lagi. Saya akan bertemu dengan
calon investor di Jakarta nanti dipandu langsung tim dari BKPM [Badan
Koordinasi Penanaman Modal],” ujar Seno.
Ada
sinyal Seno akan mencari investor baru mengingat tidak hanya Tiongkok yang
tertarik bangun bandara di Boyolali. “Investor kan banyak ada dari Amerika.
Mungkin butuh waktu lebih lama untuk merealisasikan, tapi diskusi saya dengan
Presiden Jokowi, secara prinsip beliau mengizinkan asal ada dananya dan
sama-sama beriringan dengan rencana pengembangan Bandara Adi Soemarmo.”
Menurut
Seno, kesepakatan yang sudah terbangun sebelumnya akan sangat disayangkan jika
tidak dilanjutkan. “Ya, beri saya waktu sepekan lagi akan ada investasi yang
luar biasa yang berencana masuk ke Boyolali.”
Seperti
diketahui sebelumnya, Bupati Seno berambisi membangun bandara komersial yang
diklaim akan lebih megah dibandingkan Bandara Soekarno Hatta (Soetta) di
Cengkareng. Nilai investasi bandara itu diperkirakan mencapai Rp42 triliun atau
enam kali lipat dibanding investasi pembangunan terminal ultimate 3 Bandara
Soetta.
http://www.solopos.com/2016/11/23/investasi-boyolali-proyek-bandara-terkendala-aturan-main-wto-771128
Tidak ada komentar:
Posting Komentar